Perjalanan Aneh Cita-cita
Semakin mendekati kepala tiga, hidup seseorang akan semakin realistis, cita cita yang dahulu sering di gaungkan saat kecil, saat sekolah dasar, bahkan saat ditanya orang-orang sekitar kita. kita dengan semangat menjawab, ingin jadi polisi, ingin jadi dokter. begitu polos. semakin realistis dalam artian sesungguhnya bahwa individu tersebut menghadapi gejolak yang sangat luar biasa dari sisi psikis dan fisik. gejolak materealisme. sebuah paham yang tumbuh dari pemikiran sadar kita bahwa semua haruslah berbentuk. materealisme dalam konteks ini adalah si individu berpikiran bahwa cita-citanya yang sudah dicanangkan saat kecil mengalami perubahan abstraksi. yang tadinya berpikir asal belajar rajin mengerjakan PR sudah bisa terwujud, ternyata tidak. perjuangan terlebih dahulu sebelum menjadi yang dicitakan, seperti menjadi dokter harus jungkir balik menghadapi bangku kuliah yang hampir menguras tenaga pikiran, keuangan dan perasaan, belum lagi setelah lulus dihadapkan pada lapangan kerja yang sedikit dan sulit, meu mencari modal saja sudah setengah mati. apalagi sampai sukses diusia muda. kurang lebih itu pikiran individu ini.
sehingga cita-cita itu m e m u d a r seiring berjalannya waktu. karena jalan yang terlihat tidak mungkin. namun t e r l i h a t tidak mungkin itu sebenarnya belum final selama masih ada kesempatan meraihnya. sering disaat ini individu mulai bertumbangan hasratnya. hilang motivasinya, stress tekanan psikisnya, dan terkuras energinya hanya untuk mengeluh yang mana kita tahu mengeluh itu bukanlah jalan keluar.
akan sangat mudah bagi seseorang kalau sudah terlihat j a l a n nya. dalam fase ini kita seperti menyibak semak-semak belukar penuh duri dan hewan melata dalam keadaan malam hari demi mencari j a l a n. jalan yang sudah ditemukan akan membawa kepada tujuan. atau malah sebaliknya tergantung bagaimana memilih jalannya. bisa jadi malah t e r s e s a t. ikhitiar mencari jalan ini butuh dukungan ekstra, baik keluarga, mentor, suami, istri, sahabat, kolega, dan mitra.
saat mengalami kesulitan mencari jalan tersebut jangan berputus asa seolah sudah tidak ada jalan. tetapi mulailah rapikan pakaian dan penampilanmu, tersenyumlah (saran Hasan Al Bisri Seorang sufi ternama), berikutnya keluarlah jangan di dalam rumah. cari orang, cari teman, cari info, sebanyak-banyaknya terutama tentang apa yang kita butuhkan. ajak orang - orang sekitar kita diskusi minta masukan dari mereka yang ahlinya. dan tidak lupa mencari guru atau guide atau mentor atau pendamping yang sekiranya pernah mengalami gelap rintangnya perjalanan dan sudah mendapatkan jalan kesuksesan.
upaya-upaya harus terus dilakukan dan di evaluasi saat belum menunjukkan hasil yang memuaskan. jika belum dapat jodoh. evaluasi ! jika belum dapat pekerjaan, evaluasi ! dan seterusnya. setelah dievaluasi diupayakan ganti cara dan strategi, jangan memaksakan upaya yang sama terus dilakukan sedang kita tahu hasilnya nihil. hanya buang waktu dan modal.
hanya perlu merapikan pakaian, tersenyum dan keluar mencari kenalan dan informasi itu upaya awal menuju kesuksesan. bukan keluar mencari teman yang bisa dicurhati dan dipinjami uang. ini juga sekali lagi tidak merubah keadaan.
yakinlah j a l a n mu sudah digariskan. hanya upaya dan semangat ini yang harus tetap ada dalam hidupmu supaya menemukan jalannya. wAllahu A'lamu Bi As showab.
Comments
Post a Comment